Sejarah singkat Paroki Santa Maria Assumpta Gamping diuraikan dalam 3 masa, yaitu masa tumbuh dan kembangnya umat, masa persiapan menjadi Paroki dan Paroki Santa Maria Assumpta Gamping dalam dinamika dan perkembangannya.
Masa Tumbuh dan Kembangnya umat
Sejarah pertumbuh umat paroki Gamping mulai dari seorang penjual Gamping bernama Kramaredja. Kramaredja sering diminta mengantarkan gamping kepada Romo Frans Van Lith, SJ yang saat itu sedang membangun gedung Kolese Xaverius di Muntilan. Tertarik oleh pendidikan Kolese Xaverius tersebut, Kramaredja kemudian mengirim Bendot Djajautama, anak sulungnya, untuk mengikuti pendidikan guru di Kolese tersebut. Bendot Djajautama lulus dan menjadi guru. Patut dicatat bahwa sampai saat itu baik Kramaredja maupun Bendot Djajautama belum Katolik. Baru ketika Bendot Djajautama menjadi guru di Indramayu, ia berkenalan dengan Den Mas Djajus, seorang guru beragama Katolik yang berasal dari Sala. Dari situlah ia kemudian mendalami agama Katolik dan ia dibaptis sekitar tahun 1918. Setelah dibaptis, Bendot Djajautama membimbing adiknya, Sarwana Brataanggada, supaya belajar di Normaalschool di Muntilan. Sarwana Brataanggada dibaptis di Muntilan pada tahun 1919. Akhirnya adik-adik dan orangtua Bendot Djajautama menjadi Katolik. Kramaredja sendiri dibaptis oleh Romo H. Van Driessche, SJ pada tanggal 10 November 1920 dengan nama baptis Bartolomeus. Beliau tercatat sebagai umat Katolik pertama di Gamping. Setelah itu, iman Katolik kemudian tumbuh pula pada keluarga lain di sekitar Gamping seperti Banyuraden, Onggobayan, Mejing, Pasekan, dan Gancahan.
Sadar bahwa melalui pelayanan pendidikan iman umat dapat dipelihara dan dikembangkan, maka pada tahun 1923 Romo F. Straeter, SJ membuka Volkschool atau Sekolah Dasar Kanisius di Mejing. Sekolah ini menumpang di rumah Bapak Partadikrama di dusun Mejing. Guru sekolah ini antara lain adalah Bendot Djajautama, dan salah satu murid pertama sekolah ini antara lain Gregorius Pardal Widyaharsana. Sekolah Dasar Kanisius Mejing memiliki gedung sendiri pada pertengahan tahun 1929. Romo A. Wignyamartaja, Pr adalah murid angkatan pertama Sekolah Dasar Kanisius di gedung baru.
Ketika umat Katolik sudah berjumlah 50 orang, mulai ada pelayanan Ekaristi sebulan sekali oleh para imam dari Kotabaru. Setelah jumlah umat berkembang menjadi 100 orang, Ekaristi dilayani 2 kali dalam sebulan, yaitu pada hari Jumat Pertama dan Minggu kedua. Ekaristi dipersembahkan di gedung Sekolah Dasar Kanisius Mejing. Jika hari Minggu tidak ada pelayanan Ekaristi, sebagian umat akan berjalan kaki ke Gereja Kidul Loji, Kumetiran, Kotabaru, atau Pugeran untuk mengikuti misa. Pada tahun 1924 dibuka juga Sekolah Dasar Kanisius Gamping di dusun Gamping Tengah yang menumpang di rumah Nyonya Dirdjasudana. Pada tahun 1935 dibuka lagi Sekolah dasar Kanisius di dusun Gesikan bertempat di rumah bapak F. X. Pudjo Sutojo. Tokoh penting lain di masa tumbuh kembang ini adalah bapak Usadi Hadiwardaya. Beliau berasal dari dusun Delingsari, bekerja di kebun teh di Pekalongan. Setelah tidak bekerja di kebun teh, beliau diangkat sebagai Katekis penuh waktu oleh Romo F. Straeter, SJ.
Pada tahun 1943, umat Katolik di Gamping sudah mencapai 150 orang. Masa penjajahan Jepang (1942 -1945) adalah masa di mana banyak gereja, biara, rumah sakit dan sekolah Katolik dirampas Jepang untuk dijadikan kantor pemerintah, penjara, atau markas militer. Karena Gereja Katolik dilarang menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran agama, penyelenggaraan misa dilaksanakan di rumah Mertadikrama di dusun Gamping Lor hingga tahun 1948. Setelah Mertadikrama meninggal pada tahun 1945, peralatan dan pakaian misa disimpan di rumah Bonifacius Tjaraka di dusun Mejing.
Pada tanggal 31 Oktober 1945, Kumetiran menjadi paroki dengan nama Hati Santa Perawan Maria Tak Bercela. Gamping menjadi salah satu stasi dari Paroki Kumetiran. Sejak saat itu dibentuk suatu pengurus dengan tugas mengelola umat agar lebih berkembang. Stasi Gamping dibagi menjadi 4 wilayah yaitu Gamping, Gancahan, Nyamplung dan Mejing. Pada tahun 1946 ibu kota RI dipindah ke Yogyakarta. Dikuasainya Yogyakarta oleh Belanda, turut mempengaruhi keberadaan umat di Gamping. Tentara Belanda membuat markas pertahanannya di Gamping Kidul, Pasekan, dan Klangon. Akibat adanya peperangan tersebut peralatan misa yang saat itu disimpan di rumah Bonifacius Tjaraka selalu berpindah-pindah tempat. Dengan bantuan beberapa teman, Bonifacius Tjaraka mengungsikan pakaian dan peralatan misa ke tempat Mudji Mudjosusanto di Gejawan. Sedangkan altar dibawa oleh beberapa pemuda ke rumah Prawirasukardja di Nyamplung. Dengan demikian perayaan Ekaristi diadakan di Nyamplung. Dalam perayaan Ekaristi di Nyamplung pernah dibaptis beberapa bayi oleh Romo A. Pudjahandaja, Pr.
Setelah Belanda menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia pada tahun 1949, Ekaristi diselenggarakan di kediaman Jacobus Mertadikrama di dusun Gamping Lor. Ketika jumlah umat bertambah, rumah Mertadikrama tidak lagi memadai untuk menampung umat. Melihat hal tersebut Cornelius Muljata selaku Ketua Stasi Gamping berbicara dengan Raden Wedana Sastrawanadardja yang memiliki rumah besar. Meskipun Raden Wedana Hardjawana Sastradardja belum menjadi pemeluk Katolik beliau memperbolehkan rumahnya dipakai sebagai tempat perayaan Ekaristi. Romo A. Wignjamartaja Pr, adalah Romo pertama yang memimpin misa di rumah ini pada tanggal 26 Agustus 1951. Rumah ini digunakan sebagai tempat misa hingga berdirinya Gereja Santa Maria Assumpta Gamping pada tahun 1961. Salah seorang putra Raden Wedana Sastrawanadardja adalah Mgr. Blasius Pudjarahardja, Pr.
Masa Persiapan Menjadi Paroki
Pada tahun 1954 jumlah umat di Gamping sekitar 500 orang termasuk katekumen, sehingga Pastor Paroki Kumetiran mempersiapkan berdirinya gereja di Gamping. Namun berhubung status stasi Gamping belum tegas dalam arti ikut paroki Kotabaru atau Kumetiran, maka Romo A. Sandiwan Brata, Pr menulis surat ke Vikariat Apostolik Semarang. Isi surat tersebut adalah penegasan status, laporan keadaan stasi Gamping serta program kerja paroki Kumetiran di stasi Gamping. Dalam surat tersebut ditulis bahwa umat Gamping lebih cocok bergabung dengan paroki Kumetiran, dengan alasan bahwa umat Gamping sudah biasa ikut misa di Kumetiran, jarak Gamping ke Kumetiran lebih dekat, dan persahabatan antara pemuda Kumetiran dan pemuda Gamping sangat baik. Pengurus Stasi Gamping membentuk Panitia Persiapan Pendirian Gereja, yang bertugas untuk mengusahakan tanah, pendirian gereja dan pastoran di Gamping. Kepanitiaan tersebut terdiri atas Petrus Honosujatmo, Bonifacius Tjaraka, Hardjasuprapta, Subardi, Suhardi, dan pelindung Romo Alexander Sandiwan Brata, Pr.
Panitia Persiapan Pendirian Gereja berupaya mencari tanah untuk lokasi pembangunan gereja dan pasturan. Alternatif pilihan lokasi antara lain di sebelah utara Kantor Pos Gamping, tanah bekas kawedanan di Delingsari, dan tanah milik Raden Wedana Pradjanarmada, Wedana Wates, Kulon Progo. Dalam persiapan tersebut ada kendala mengenai sempitnya lahan, kurang strategis dan ditolak karena akan digunakan untuk gereja. Pilihan selanjutnya jatuh kepada tanah Raden Wedana Pradjanarmada. Negosiasi tanah membutuhkan waktu mulai tahun 1953 hingga tahun 1957. Disepakati harga tanah tersebut adalah Rp 7,25/m2. Berhubung tanah yang dibeli panitia kurang memadai luasnya untuk komplek gereja dan pasturan, maka Petrus Honosujatmo meminta Petrus Wagija Hadisunarja untuk merelakan tanah miliknya yang terletak di sebelah selatan tanah yang sudah dibeli. Petrus Wagija Hadisunarja adalah mertua dari Petrus Honosujatmo. Luas tanah yang direlakan seluas 1105 m2, sehingga lahan gereja menjadi seluas 3.050 m2, berbentuk segitiga siku-siku, dengan jalan raya depan gereja pada sisi miringnya.
Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ menerimakan Sakramen Krisma di Gamping kepada 50 orang umat Gamping pada tanggal 14 September 1956. Ketika itu beliau berkata “Para sedulur, aja padha cilik ing ati. Sapa ngerti yen ing tembe mburi bakal ana greja mundhuk-mundhuk teka ana ing Gamping kene” (Saudara sekalian, jangan kecil hati, siapa tahu besuk akan ada gereja tiba-tiba muncul di Gamping sini). Pernyataan beliau tersebut merupakan kabar gembira yang membuat hati umat di Gamping berkobar untuk mendirikan sebuah gereja. Pengesahan hak kepemilikan atas tanah yang dilakukan dengan mendirikan yayasan berbadan hukum “PENGURUS GEREJA DAN PAPA MISKIN ROMA KATHOLIK DI WILAYAH GEREJA SANTA MARIA DIANGKAT KE SURGA DENGAN MULIA DI GAMPING, SLEMAN, YOGYAKARTA” oleh Mgr. A. Soegijapranata, SJ. Yayasan ini disahkan dengan akte notariat yang dibuat oleh Notaris Raden Mas Soeprapto di Semarang pada tanggal 15 Agustus 1958. Nama pelindung Maria Assumpta diusulkan oleh Petrus Honosujatmo “SANG KENYA KANG PINUNDHUT MENYANG SWARGA, PENUH KAMULYAN”.
Setelah memiliki tanah dan hak kepemilikannya selesai, pembangunan gereja siap dimulai. Pada tahun 1959, Romo B. Schouten, SJ mengajak Romo C. Rommens, SJ yang saat itu menjadi Pastor Paroki Pakem datang meninjau lapangan. Romo C. Rommens, SJ adalah imam yang memperkenalkan model Gereja konstruksi kayu. Oleh karena itu, bentuk bangunan gereja Gamping mirip dengan bentuk bangunan gereja Pakem. Peletakan batu pertama, tanda dimulainya pembangunan gereja Gamping, dilakukan oleh Romo Vikaris Jenderal Vikariat Apostolik Semarang Romo Thomas Hardjawarsito, Pr awal tahun 1960. Pelaksanaan pembangunan dikerjakan oleh Bagian Pembangunan Vikariat Semarang. Luas bangunan gereja adalah 520 m2 dengan ukuran 13 x 40 m. Pembangunan gereja dianggap selesai meski tidak dilengkapi dengan altar, mimbar, kursi imam, kursi misdinar dan tempat duduk umat. Semua perlengkapan disediakan dengan cara swadaya umat atau mencari bantuan dari paroki lain. Setelah dianggap selesai, Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ kemudian hadir memberkati gereja pada tanggal 24 Desember 1961 pukul 07.00 WIB. Sejak saat itu perayaan misa pindah dari rumah Raden Wedana Sastrawanadirja ke gereja Gamping.
Paroki Santa Maria Assumpta Gamping dalam Dinamika dan Perkembangannya
Meskipun sudah memiliki gereja, namun status Gamping masih sebagai stasi di bawah pelayanan Paroki Kumetiran. Reksa rohani dan misa dilayani para pastor Paroki Kumetiran sebulan 2 kali, pada minggu II dan minggu IV dengan bahasa Jawa. Romo – romo yang melayani misa di Gamping antara lain adalah Romo Liem Bian Bing, SJ (1960 – 1963), Romo Petrus Chrysologus Soeharso Soetopanitro, SJ (1963 – 1968), Romo C. Harsasuwita, SJ (1968 – 1973).
Karena kecintaannya terhadap pendidikan anak, maka saat Sekolah Dasar Kanisius Gamping yang dibuka di rumah Nyonya Dirdjasudana di dusun Gamping Tengah kesulitan mencari tanah, Romo Constantinus Harsasuwita, SJ memberi izin kepada Yayasan Kanisius untuk mendirikan sekolah di halaman Gereja. Sejak adanya pastoran di Gamping tahun 1967, Romo Petrus Chrysologus Soeharso Soetapanitra, SJ sering menginap di Gamping, dan mulai mengadakan misa di lingkungan-lingkungan. Beliau menata Gamping dalam 7 kring yaitu Onggobayan, Gamping, Mejing, Gesikan, Nyamplung, Gancahan, dan Sumber Gamol – Gejawan – Pasekan. Agar wilayah mudah dibaca, beliau merintis adanya peta stasi. Di samping itu beliau merintis adanya perlengkapan misa. Pada tahun 1969, Romo Petrus Chrysologus Soeharso Soetapanitra, SJ, pindah dari Kumetiran untuk merintis berdirinya Paroki Wonogiri, sehingga misa di Gamping dilayani oleh Romo-Romo dari Kolese De Britto, seperti misalnya Romo S. Bratasoeganda, SJ.
Umat Gamping diibaratkan sebagai domba tanpa gembala, pada tahun 1974 stasi Gamping dilepas dari Paroki Kumetiran dan digabung ke paroki Pugeran berdasar Surat Keputusan yang dikeluarkan Keuskupan Agung Semarang. Misa dilayani oleh para Romo Fransiskan. Romo Fransiskan yang sebagai pernah melayani umat di Gamping adalah Romo AB. Sadji, OFM (1974 – 1976) yang waktu itu adalah Pastor Pembantu di Paroki Pugeran. Setelah Romo AB. Sadji, OFM dipindah ke Jakarta, pelayanan dilanjutkan oleh Romo F. Sutoyo OFM hingga tahun 1978. Romo F. Sutoyo OFM diingat karena kedisiplinannya. Setelah para Romo Fransiskan tidak lagi melayani di Pugeran, pelayanan pastoral paroki Gamping kembali dilakukan oleh para Romo Yesuit. Rm C Harsasuwita, SJ adalah Romo Yesuit yang bertugas di Paroki Pugeran sebagai Pastor Pembantu, namun bertugas khusus melayani umat dan tinggal di Stasi Gamping. Saat itulah penanda sejarah mulainya paguyuban umat sebagai Paroki Gamping.
Paroki dikelola dengan mengutamakan hidup doa, kesalehan, dan pelayanan sakramen. Pada tahun 1979 – 1980 Sekolah Dasar Kanisius Gamping menghadapi kesulitan mencari tanah untuk didirikan Sekolah. Dengan pertimbangan jasa para Guru Kanisius pada masa lampau yang bersedia sebagai Katekis sehingga iman tumbuh dan berkembang, maka Romo C. Harsasuwita SJ memberi ijin Yayasan Kanisius mendirikan sekolah di halaman utara gereja.
Seiring dengan pertambahan umat di wilayah-wilayah, semakin banyak umat yang berusia lansia, dan pertimbangan lain, maka mulai tahun 1982 dibangunlah Kapel di dusun Nyamplung untuk umat wilayah Balecatur. Kapel digunakan sebagai tempat untuk berkumpul berdoa dan kegiatan lainnya. Jumlah umat kala itu berkisar 200 orang. Tanah di mana Kapel didirikan dibeli dari pemiliknya yaitu Pak Winar dan Bu Pariyem. Demikian pula umat wilayah Gancahan, dengan maksud yang sama juga mendirikan Kapel pada tahun 1983. Kapel ini didirikan di atas tanah hibah dari keluarga Bapak Tejo Sumarto – Ibu Carlisah seluas 194 m2. Untuk lahan parkir dibeli tanah seluas 338 m2. Pada saat Kapel didirikan jumlah umat wilayah Gancahan sekitar 978 orang. Umat wilayah Gesikan terinspirasi dari ke dua wilayah yang telah mendirikan Kapel, maka pada tahun 1986, wilayah Gesikan mendirikan Kapel di atas tanah hibah dari keluarga Bapak Yohanes Sugiyanto, seluas 460 m2. Jumlah umat wilayah pada saat itu sekitar 200 orang. Karena pada tahun-tahun tersebut Pastor Paroki Gamping hanya seorang, maka di kapel belum ada pelayanan misa.
Di samping didirikannya 3 Kapel di 3 wilayah, sektor pendidikan terutama pendidikan pra-sekolah, anak usia 3 sampai sebelum 6 tahun, di wilayah paroki Gamping berdiri 2 Taman Kanak-kanak (TK) di bawah Yayasan Dharma Ibu Yogyakarta. Pembukaan sekolah-sekolah ini dimaksudkan sebagai sarana penumbuhan iman sejak dini. Pada tahun 1986 didirikan TK Indriyasana di dusun Nyamplung. Gedung Sekolah ini didirikan di atas tanah hibah dari keluarga Frans. Suharto seluas 149 m2, dan sebagian menempati ruang milik Kapel Nyamplung. Tiga (3) tahun kemudian yaitu tahun 1989 didirikan TK Indriyasana di dusun Gancahan, dan disebut TK Indriyasana Gancahan. Peserta didik di kedua TK tersebut tidak hanya beragama Katolik, namun ada peserta didik yang beragama Kristen maupun Islam.
Sejak tahun 1978 sampai tahun 1997 Romo dari Ordo Jesuit berkarya lagi di Gamping. Romo-romo Yesuit yang berkarya di paroki Gamping adalah Rm. Ch. Harsosuwito, SJ (1978-1988), Rm. C Budiarto, SJ (1988-1992), Rm. J. Abdipranata, SJ (1992-1993), Rm. J. Mardiwidayat, SJ (1993-1997). Mulai tahun 1997 Paroki Gamping dilayani Romo Diosesan Keuskupan Agung Semarang. Romo Diosesan yang pertama berkarya di paroki Gamping adalah Romo Christoporus Sutrasno Purwanto, Pr. (1997 – 2001), Romo Rm. Y. Winarto, Pr (2001-2007), Rm. FA. Suntoro, Pr (2007-2012), Rm. R. Yuni Triwibowo, Pr (2012-2014), Rm. Y. Bambang Triantoro, Pr (2014-2016), Rm. M. Suharyanto, Pr (2016-2018 sebagai administrator Paroki), Rm. M. Suharyanto, Pr (2018-2020), dan Rm. Y. Nugroho Tri Sumartono (2020 – sekarang).
Antara tahun 1988 hingga tahun 1991, terjadi perubahan pembagian wilayah yang semula 7 kring, menjadi 5 stasi (wilayah) dengan 15 kring (lingkungan). Hal ini dilakukan agar pelayanan pastoral dan koordinasi kegiatan kegerejaan dapat menjangkau umat yang lebih banyak dan keterlibatan umat semakin besar. Struktur paroki dituangkan dalam Pedoman Pelaksanaan Dewan Paroki (PPDP) yang dapat dipergunakan oleh Romo dan pengurus Dewan Paroki dalam menyusun lembaga pelayanan paroki dan dasar pembuatan program kerja. Perangkat kesenian Jawa berupa gamelan digunakan untuk iringan misa sebagai wujud inkulturasi budaya. Pada tahun 1994, usia bangunan gereja telah mencapai 33 tahun. Di kala itu ada pemikiran untuk merenovasi bangunan gereja. Untuk persiapan rencana Renovasi Gereja dibentuk Panitia penggalangan dana dan usaha, antara lain berbentuk Koperasi Cinta Kasih (KCK) dan Tabungan Cinta Kasih (TCK). Kegiatan Koperasi Cinta Kasih berupa usaha simpan pinjam dari umat untuk umat, dan hasil usahanya digunakan sebagai dana persiapan renovasi gedung gereja, dan untuk meningkatkan kesejahteraan bagi para anggotanya. Disamping sebagai sarana penggalangan dana untuk renovasi, KCK dan TCK dimaksudkan sebagai sarana untuk menumbuhkan semangat memiliki gedung gereja dan semangat saling berbagi dan membantu kepada umat yang lemah dalam ekonomi. Tabungan Cinta Kasih dilaksanakan dengan asas kekeluargaan dan gotong royong. Tujuannya adalah untuk memupuk semangat persaudaraan, meningkatkan kepekaan lingkungan, mendewasakan umat dan membudayakan semangat menabung.
Pada tanggal 23 Maret 2001, terbit Dokumen Notaris di Semarang Angellique Tedjajuwana S.H., tertanggal 23 Maret 2001 yang merupakan Akta Perubahan Anggaran Dasar Yayasan Pengurus Gereja dan Papa Miskin Room Katolik di Wilayah Gereja Santa Maria Diangkat Kesurga Dengan Mulia di Gamping, Sleman, Yogyakarta, bahwa pada tanggal 15 Agustus 1958, Vikaris Apostolik Semarang Mgr. Albertus Soegijapranata S.J., dan Pastur Gerardus Susanto Utojo Presbyter, Pastur Room Katolik bertempat tinggal di Pasturan Kumetiran Jogjakarta, serta Petrus Ludovicus Suhono Honosujatmo, Pegawai Kantor Penerbangan G.I.A. Jogjakarta, bertempat tinggal di Gamping Lor Kalurahan Ambarketawang No.14, Kapanewon/Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Jogjakarta, mendirikan Jajasan Gereja Katolik yang dinamakan “PENGURUS GEREJA DAN PAPA MISKIN ROOM KATHOLIK DI WILAJAH GEREJA SANTA MARIA DIANGKAT KESURGA DENGAN MULIA DI GAMPING, SLEMAN, JOGJAKARTA”. Dalam Akta Perubahan Anggaran dasar Yayasan ini, Nama dan Tempat Kedudukannya sebagai berikut:
“PENGURUS GEREJA DAN PAPA MISKIN ROOM KATOLIK” yang disingkat PGPM PAROKI SANTA MARIA DIANGKAT KE SURGA DENGAN MULIA di GAMPING, SLEMAN, YOGYAKARTA.
Dalam kurun waktu tahun 2001 sampai 2007, telah terjadi pemekaran di Wilayah Brayat Minulya Balecatur menjadi enam lingkungan, yaitu dengan bertambahnya Lingkungan Santa Margaretha Gejawan Indah/Puri. Lingkungan di Wilayah Santo Aloysius Gonzaga dimekarkan dari dua lingkungan menjadi tiga lingkungan dengan bertambahnya Lingkungan Santa Veronika Gesikan III. Pemekaran lingkungan dimaksudkan untuk meningkatkan pelayanan kepada umat, meningkatkan partisipasi umat dalam hidup menggereja.
Disamping pembinaan iman umat, dari 2007 sampai 2012 dilaksanakan pula pembelajaran iman dalam ekonomi, berupa kegiatan ekonomi yang didasari semangat iman. Gerakan ini dikenal dengan Credit Union (CU). Semangat berbagi berkat bagi sesama yang diprogramkan Keuskupan Agung Semarang juga diaktifkan di Paroki Gamping. Pada tahun 2009 paroki memproses pembelian dua bidang tanah di selatan pastoran seluas 669 m2. Penggalangan dana untuk pembelian tanah secara internal dilakukan dengan gerakan berbagi, yaitu setiap keluarga menyisihkan uang Rp 100 per hari, dikumpulkan di paroki. Gerakan ini dinamai gerakan Koin Maria Assumpta. Dalam perkembangannya dana Koin Maria dialihkan peruntukannya, yakni digunakan untuk karya karitatif membantu keluarga-keluarga yang masuk kategori KLMTD. Pengalihan kegunaan ini disebabkan adanya donasi orang yang tidak mau disebut namanya, sehingga jumlah dana untuk pembelian tanah tercukupi. Hal lain yang dilakukan pengurus Dewan Paroki adalah proses pemindahan nama atas semua tanah-tanah hibah atau hasil pembelian dari atas nama perseorangan ke atas nama PGPM.
Dalam rangka optimalisasi pelayanan kepada umat lingkungan, pada Oktober 2010 telah dimekarkan lingkungan Santa Brigitta Gesikan II menjadi 3 lingkungan baru, yaitu lingkungan Lucia Ngawen, lingkungan Fransiskus Asisi Palem Hijau dan lingkungan Santo Hieronimus Gesikan II. Pada tahun 2014 Lingkungan Santa Ana dimekarkan menjadi lingkungan Santa Ana dan lingkungan Santo Yoakim. Dinamika selanjutnya adalah pemekaran Wilayah Balecatur menjadi dua wilayah baru yaitu wilayah Mateus Brayat Minulya dan Wilayah Vincentius Brayat Minulya Balecatur yang dilakukan pada tanggal 14 Agustus 2015. Pada tahun 2015, Wilayah Mejing dimekarkan menjadi wilayah Mikael Mejing dan wilayah Yosef Sidoarum. Dalam peristiwa ini, sekaligus dilakukan pemekaran lingkungan Stefanus Mejing menjadi lingkungan Stefanus dan Monika. Pada tahun 2018, Paroki Santa Maria Assumpta Gamping terdiri dari 8 Wilayah dan 34 Lingkungan. Seiring jumlah umat paroki lebih dari 5000 orang, mulai 15 Januari 2014 pelayanan pastoral dilayani oleh 2 orang imam. Untuk meningkatkan layanan kepada umat dalam perayaan ekaristi, paroki mengambil kebijakan bahwa mulai 1 Januari 2015 di Kapel Gesikan dan Gancahan diselenggarakan misa mingguan. Khusus di Kapel Gancahan juga dilaksanakan misa harian.
Seiring dengan jumlah umat yang semakin banyak, diperlukan perluasan panti umat. Renovasi gereja dan sekitarnya mulai dilakukan mulai Februari 2015, penambahan luasan panti umat ke selatan dan utara, dingklik umat, gudang di bawah tanah, pemindahan dan pembangunan gedung Sekolah Dasar Kanisius Gamping dari halaman utara gereja ke tanah di sebelah selatan Pastoran. Partisipasi umat sangat besar, antara lain dukungan moral, dana dan material terhadap renovasi dan pengembangan panti paroki. Bangunan gedung gereja selesai direnovasi pada tahun 2015. Selanjutnya dibangun gedung Pastoran dan gedung pelayanan pastoral dimulai bulan April 2017. Gedung Pastoran yang baru menempati lokasi gedung Pastoran yang lama. Umat sangat mendukung pembangunan ini melalui doa dan dana. Pembangunan gedung pastoran dan gedung pelayanan pastoral ini diselesaikan pada pertengahan Oktober 2017. Kemudian untuk memfasilitasi umat untuk berdoa kepada Bunda Maria, di depan gereja sebelah tenggara dibangun Taman Doa. Dalam Taman Doa tersebut diletakkan patung Bunda Maria. Taman doa diberkati oleh Bapak Uskup Keuskupan Agung Semarang Mgr. Robertus Rubiyatmoko, Pr. pada hari Sabtu, 12 Agustus 2017. Kemudian dibangun patung Bunda Maria berukuran besar menghadap ke utara dan diletakkan di atas atap ruang sakristi sisi utara, dengan maksud agar begitu umat masuk halaman gereja langsung berkomunikasi batin dengan Bunda Maria pelindung Gereja Gamping. Pembangunan patung Bunda Maria selesai pada tahun 2019.
Pandemi Covid-19 melanda dunia sejak November 2019 termasuk di paroki Santa Maria Assumpta Gamping. Untuk menjaga penyebaran virus covid-19, perayaan ekaristi hanya dilayani di gereja Gamping, dibatasi hanya untuk umat paroki sendiri dengan penerapan protokol kesehatan secara ketat hingga Juni 2022.
Spiritualitas Reksa Pastoral Paroki St Maria Assumpta Gamping
Bunda Maria yang Diangkat ke Surga dengan Mulia, pelindung paroki, menjadi penerang bagi hidup, kebersamaan, gerak dan pelayanan pastoral Paroki Gamping. Umat Paroki Santa Maria Assumpta Gamping, sebagai persekutuan paguyuban murid Yesus Kristus dalam bimbingan Roh Kudus dan perlindungan Bunda Maria, berjuang demi terwujudnya peradaban kasih dalam masyarakat Indonesia yang sejahtera, bermartabat, dan beriman. Paroki berziarah bersama Gereja sedunia dalam tuntunan tradisi, magisterium, dan Kitab Suci untuk mewartakan Kerajaan Allah di bawah penggembalaan Uskup Agung Keuskupan Agung Semarang dalam konteks masyarakat Gamping dan sekitarnya. Secara khusus, Bunda Maria dihadirkan dalam paguyuban Gereja yang senantiasa siap sedia menjadi rahim terjadinya kehendak Allah melalui hidup menggereja dan memasyarakat; bertumbuh bersama dalam pengembangan iman berjenjang dan berkelanjutan bagi setiap umat tanpa terkecuali sebagaimana bunda Maria bersama keluarga Nazaret; tekun, setia, penuh bela rasa sebagai teman seperjalanan seperti bunda Maria yang mendampingi Yesus dalam hidup, karya, hingga salib, wafat, dan bangkit-Nya, serta menyertai para murid yang menantikan dan menerima datangnya Roh Kudus; dan menghidupi kesucian dalam kedalaman iman yang dinamis, reflektif, dan peka jaman.